Copyright © www.aldakwah.org 2020. All Rights Reserved.

Get Adobe Flash player
Anda dapat membaca Artikel serta kajian yang disediakan oleh kami
Anda dapat mengetahui berita islam terkini baik berita lokal maupun Internasional
Anda dapat mengakses murottal Al-Quran beserta terjemahannya ke berbagai bahasa
Anda dapat mengakses kajian audio yang kami terbitkan
Anda dapat berinfaq serta besedekah melalui perantara kami
Anda dapat memesan produk kami secara online

Kisah Bijak para penguasa

Hidup ini memang indah, selama kita memaknainya dengan benar, yaitu dengan ibadah, selalu mengingat Allah, melaksanakan kewajiban serta menjalankan amanat, ada perlunya kita mengambil hikmah dari beberapa orang yang kita kenal atau dari para pendahulu kita, pada kesempatan kali ini alangkah baiknya kita simak beberapa kisah bijak para penguasa terdahulu.

1. al-Ma'mun dan gurunya

diriwayatkan bahwa suatu hari guru al-Ma'mun lama menanti kedatangan muridnya hingga hampir putus asa karena begitu lama. Setelah itu al-Ma'mun hadir, maka sang guru memukulnya hingga ia menangis. Tiba-tiba salah seorang pengawal khalifah minta izin untuk masuk, maka al-Ma'mun segera mengusap air matanya dan duduk tegap. Setelah masuk al-Ma'mun menyambut mentri ayahnya tersebut dengan wajah berseri, sama sekali tidak menampakkan kekecewaan atau kesedihan dan balas dendam, hingga tamunya beringsut pulang. Setelah menteri tersebut pulang, sang guru bertanya kepada al-Ma'mun: "Aku pikir kamu akan melaporkan apa yang telah aku lakukan padamu!" al-Ma'mun menjawab: "Aku tidak suka ada orang mengetahui bahwa aku masih butuh pelajaran tatakrama, demi Allah ayahku tidak senang jika mengetahui hal ini, karena siapa yang mengajariku satu huruf, maka aku menjadi pelayannya! Sang guru senang mendengarnya sehingga ia memperlakukannya dengan baik.

2. Harun al-Rasyid dan pembelot

Khalifah al-Rasyid berhasil menangkap salah seorang yang hendak membelot dari kekuasaannya, maka ia bertanya kepadanya: "Kamu ingin aku melakukan apa padamu?" ia menjawab: "Seperti yang anda inginkan apa yang akan dilakukan Allah kepada anda kelak! Aku tidak mendapatkan seorangpun yang lebih hina dari pada aku di hadapanmu!

Khalifah terdiam sejenak, kemudian berkata: "Pergilah kemana kamu suka!" sebagian anggota majlis yang hadir menyayangkan putusan khalifah dan memperingatkan bahaya yang ditimbulkan orang tersebut, maka ia segera memerintahkan orang itu kembali ditangkap dan dihadapkan padanya.

Orang itu berkata: "Wahai amirul mukminin, jangan kau turuti mereka dalam masalahku, sebab kalau Allah menjadikan makhluk Nya taat kepada anda, niscaya Allah tidak akan menjadikan khalifah atas mereka!" maka sang khalifah takjub dengan ucapan orang tersebut, juga tentang kecerdasan dan kuatnya argumen yang ia kemukakan, maka ia pun dibebaskan sepenuhnya.

3. Mu'awiyah dan Abdul Malik bin Marwan

Dikisahkan bahwa Abdul Malik bin Marwan minta izin untuk menghadap amirul mukminin Mu'awiyah, ia diizinkan masuk, ia mengucapkan salam lalu duduk dan mengutarakan maksudnya, setelah itu ia pamit. Mu'awiyah berkata: "Alangkah baik budi pekertinya! Sebagian orang yang hadir di situ menimpali: "Benar wahai Amirul mukminin, ia mengambil 4 macam dari akhlak dan meninggalkan 4 macam yang lain. Ia mengambil dengan sebaik-baik manusia jika bertemu, sebaik-baik ucapan jika berkata-kata, sebaik-baik mendengar jika di ajak bicara, dan sebaik-baik kejujuran jika berjanji. Yang ia tinggalkan adalah banyak canda dengan orang yang tidak dikenal baik akalnya, tidak mau duduk bersama orang yang tidak mau kembali kepada kebenaran, tidak mau bergaul dengan orang yang tidak beradab, dan tidak melakukan perbuatan atau ucapan yang disayangkan karenanya. (hikam, 2/ 172)