Copyright © www.aldakwah.org 2020. All Rights Reserved.

Get Adobe Flash player
Anda dapat membaca Artikel serta kajian yang disediakan oleh kami
Anda dapat mengetahui berita islam terkini baik berita lokal maupun Internasional
Anda dapat mengakses murottal Al-Quran beserta terjemahannya ke berbagai bahasa
Anda dapat mengakses kajian audio yang kami terbitkan
Anda dapat berinfaq serta besedekah melalui perantara kami
Anda dapat memesan produk kami secara online

Metode Rasulullah SAW dalam berdakwah

Para Saudara seiman yang senantiasa dirahmati Allah SWT, pada kesempatan yang mulia ini kita akan bahas bersama - sama tentang Metode Rasullullah SAW serta manhaj para Nabi dalam berdakwah, Karena Allah telah memuliakan mereka dengan gelar Nabi serta Rasul yang pastinya mereka bukan orang sembarangan yang Allah pilih secara acak, tetapi Allah pilih mereka karena ketakwaan mereka dan kecintaan mereka kepada Allah SWT serta kecerdasan akal mereka, maka dari itu metode yang mereka gunakan untuk berdakwah tidak diragukan lagi keampuhannya, maka sudah semestinya kita mengikuti metode - metode mereka dalam berdakwah dan tidak sembarangan mendikte dan mengkritik suatu kaum dengan ucapan yang menyakitkan.

Berikut Kami Sajikan Manhaj Rasul dalam berdakwah

A. Dakwah adalah Tugas Para Rasul

Allah Ta'ala telah berfirman dalam Al-quran:



 

 

 

 

 

B. Tujuan Berdakwah

لِتَحْقِيْقِ غَايَةِ خَلْقِ الْخَلْقِ وَهِيَ اِنْقِيَادُ الْخَلْقِ لِلْحَقِّ وَدُخُوْلِهِمْ فِى الدِّيْنِ الْحَقِّ وَِلإِقَامَةِ كَلِمَةِ التَّوْحِيْدِ ِلأَجْلِ تَوْحِيْدِ الْكَلِمَةِ

Yaitu untuk merealisasikan tujuan penciptaan manusia yaitu tunduknya mereka kepada kebenaran dan masuknya mereka kedalam agama yang benar, dan untuk menegakkan kalimat tauhid demi terciptanya persatuan.

C. Manhaj Dakwah Para Nabi

Yang dimaksud dengan manhaj dakwah adalah metode dan cara yang ditempuh oleh para Nabi dalam berdakwah, manhaj dakwah para Nabi itu antara lain:

1.  Memulai dengan tauhid dan memfokuskan materi dakwah pada tauhid.

Semua Nabi dan Rasul selalu memulai dakwahnya dengan memperbaiki segi akidah. Hal ini sesuai dengan tuntutan akal, hikmah dan fitrah. Sebagaimana kenyataan berikut:

  1. Bahwa kerusakan-kerusakan yang berkaitan dengan masalah akidah manusia, berupa kemusyrikan, khurafat dan bid’ah, jauh lebih berbahaya daripada kerusakan-kerusakan dibidang hukum, ekonomi, sosial dan pemerintahan.
  2. Sesungguhnya Allah SWT tidak mengutus para Rasul kecuali untuk mengajarkan kepada ummat manusia tentang kebaikan, memberikan peringatan akan siksaan Allah, dan menjauhkan dari tindak kejahatan. Allah SWT berfirman yang artinya; “Manusia itu adalah ummat yang satu, maka Allah mengutus para Nabi, sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.” (al-Baqarah: 213)
  3. Allah SWT tidak membebani para pembawa risalah untuk menjatuhkan satu daulah Islamiyah demi tegaknya daulah yang lain. Allah tidak pula membebani mereka untuk mencapai tujuan kekuasaan, karena dakwah yang menempatkan penegakan daulah sebagai tujuan pertama dan utama, tidak akan terlepas dari tendensi mencari kekuasaan dunia, kedudukan dan jabatan. Pada diri Nabi sendiri, kalaupun harus melakukan dakwah dengan tahapan penegakan daulah, bukanlah karena hal yang lain, akan tetapi untuk menegakkan daulah dengan hanya niatan yang ikhlash memenuhi perintah Allah berkenaan dengan jihad di jalan-Nya, dan dalam rangka meninggikan kalimat Allah di muka bumi-Nya.

Akidah yang pertama kali diserukan oleh para Nabi adalah tiga pilar:

  1. Iman kepada Allah , dengan tauhid yang sempurna
  2. Iman kepada kenabian, dengan ketaatan yang sempurna
  3. Iman dengan hari akhir, dengan kepasrahan yang sempurna..

Dengan dibarengi tiga pilar ini maka masyarakat beralih dari jahili menuju Islam.

2.  Mempertimbangkan Situasi dan Kondisi

Ketika Rasulullah SAW berada di Makkah dan Ummat Islam masih sedikit sedangkan musuh sangat banyak dan kuat, maka beliau cukup mengajak kepada agama Islam, menjelaskan kebaikan-kebaikan Islam dan berusaha menarik simpati masyarakat. Disini Nabi melancarkan jihad dakwah dan melarang jihad perang karena hal tersebut bertolak belakang dengan perilaku hikmah. Dan dalam dakwahnya Nabi e banyak melakukan strategi mudaroh atau musalamah.

Ketika beliau hijrah ke Madinah, jumlah ummat Islam telah banyak dan kuat, sementara permusuhan orang-orang kafir kepada Islam semakin hebat. Maka Nabi SAW memerintahkan jihad perang disamping jihad dakwah. Sungguh pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang sangat baik bagi kaum muslimin.

3. Ucapan Nabi SAW dalam berdakwah selalu sesuai dengan objek dakwah

Seruan Nabi SAW kepada kaumnya yang di dakwahi memiliki banyak keistimewaan antara lain:

  1. Nabi SAW berbicara dengan kaumnya dengan lisan dan bahasa mereka


  1. Ucapan Nabi SAW sangat jelas, beliau memiliki kata, kalimat dan gaya yang dapat dicerna  oleh semua lapisan.
  2. Untuk memahamkan satu ajaran beliau menggunakan seribu cara yang dalam bahasa al-Qur`an disebut تصريف الأيات
  3. Khitab Nabi selalu didukung oleh argumentasi (dalil) dan alasan hukum (ta’lil) yang memuaskan sebagaimana yang diajarkan oleh Allah SWT didalam al-Qur`an. Seperti dalam surat al-Nur ayat 58.
  4. Ucapan Nabi selalu serius dan meyakinkan, menggugah emosi dan akal secara serempak.
  5. Ucapan beliau fokus dan konsisten dalam berfikir dan berucap, tidak bingung dan membingungkan.
  6. Ucapan beliau jauh dari bias yang membuat  salah paham atau yang menusuk perasaan mad’u, tetapi lembut, bijak dan obyektif sebagaimana perintah Allah Ta'ala.


4.  Mempermudah tidak mempersulit, memotivasi tidak membuat pesimis

5.  Mengajak kepada tawassuth (berbuat secukupnya & sekedarnya) dalam segala hal

((يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا وَبَشِّرُوا وَلاَ تَنَفَّرُوا)) متفق عليه

Allah memerintah tawassuth dan i’tidal dan mencela taqshir (mempermudah) dan ghuluw (melebih - lebihkan).

 

Tawassuth dalam ibadah (dengan menggabungkan antara Ikhlash kepada ma’bud dan mutaba’ah kepada rasul). Tawassuth mengenai para Nabi, ulama dan wali, dalam sedekah dan infak, makan, minum, gerak, jalan dan suara dan dalam segala hal.

6.  Menerapkan prinsip tatsabbut dalam hal-hal yang dikhawatirkan buruk akibatnya dan prinsip tasabuq dalam hal-hal yang dikhawatirkan terlewatkan kesempatannya.

Allah SWT berfirman:


Dalam satu qiraat keduanya dibaca فَتَثَبَّتُوا

Allah SWT mencela orang yang mudah menyebar isu:

Dan Allah memerintah bersegera dalam kebaikan:

7.  Memperioritaskan kemashlahatan yang paling utama

Rasullulah SAW telah bersabda:

((يَكُوْنُ عَلَيْكُمْ أُمَرَاءُ مِنْ بَعْدِى يُؤَخَّرُوْنَ الصَّلاَةَ فَهِيَ لَكُمْ, وَهِيَ عَلَيْهِمْ فَصَلُّوا مَعَهُمْ مَا صَلُّوا إِلَى الْقِبْلَةِ)) رواه أبو داود عن قبيصة

Yang paling afdhal shalat itu tepat pada waktunya tetapi demi mashlahat persatuan maka beliau memerintahkan agar kita shalat bersama mereka.

8.  Memilih satu diantara dua mashlahat yang paling utama serta satu diantara dua mudharat yang paling ringan.

Dua kaidah ini banyak disinggung oleh ayat al-Qur’an, dan diantaranya adalah mafhum mukhalafah (pemahaman kontras) dari firman Allah:

Jika nasihat itu akan mendatangkan bahaya besar maka meninggalkannya adalah wajib.

9.  Memanfaatkan setiap sarana (wasilah) yang mubah (diperbolehkan dalam agama)

Syeikh Nashir al-Sa’di berkata: “……. Diantara sifat pejuang agama adalah tegar, berani, sabar dan berupaya dengan semua sarana yang bisa menolong agama, dengan jiwanya, dengan hartanya, dengan suaranya, dengan pangkat dan profesinya…….” Beliau juga berkata: “Sampai orang mukmin yang shadiq dalam iman dan ma’rifatnya ada yang meniatkan tidur, istirahat dan kelezatannya agar kuat melakukaan kebaikan, membina raga agar dapat melakukan ibadah dan meningkatkan ketahanannya dalam kebaikan….”

Syeikh Abdul Aziz Ibn Baz mengatakan: “… Adapun berhubungan dengan para penguasa dan orang-orang yang memiliki kekuatan luas, mereka terkena kewajiban yang lebih banyak lagi, mereka wajib menyampaikan dakwah ini kepada seluruh penjuru dunia yang mungkin mereka jangkau, dengan cara yang mungkin, dengan bahasa-bahasa yang digunakan oleh umat manusia dan mereka wajib menyampaikan syariat Allah dengan bahasa-bahasa itu. Hingga agama ini sampai kepada setiap orang dengan bahasa yang ia fahami, dengan bahasa Arab atau lainnya. Sesungguhnya hal tersebut saat ini sangat mungkin dilakukan, dengan sangat mudah, dengan cara-cara yang sudah diterangkan diatas; melalui siaran radio, televisi, jurnalistik dan sarana-sarana lain yang memungkinkan saat ini dan tidak mungkin dimasa lalu. Begitupula wajib bagi para khatib…”

10.  Teratur dan rapi dalam berdakwah.

Diantara sebab kemenangan yang diajarkan oleh Allah SWT adalah sabar dan bagus dalam memenej (tadbir, tartib, tanzhim) semua gerak pasukan (QS. Ali Imran: 121). Identifikasi kebutuhan, pembagian tugas, penempatan orang, komando kontrol adalah lazim dilakukan oleh Nabi e. Sebagaimana beliau menganalisa kekuatan, kelemahan, tantangan dan peluang serta mengambil langkah-langkah antisipasi.

D. Wajib Mengikuti Manhaj Nabi Muhammad SAW

Setelah kita tahu sebagian dari manhaj para Nabi dan terutama Rasulullah SAW dalam berdakwah tentu kita wajib mengikutinya karena:

  1. Manhaj Anbiya’ adalah jalan yang paling lurus, yang telah Allah tetapkan kepada seluruh Nabi, dari yang pertama hingga yang terakhir.
  2. Para Nabi telah benar-benar beriltizam, mengikuti dan menyesuaikan langkah dakwahnya dengan manhaj yang ditetapkan Allah itu, yaitu yang mendahulukan dan mengutamakan pada prinsip yang satu; tauhidullah.
  3. Allah telah mewajibkan kepada rasul kita yang mulia untuk menempuh manhaj yang telah ditetapkan-Nya, dan Allah mewajibkan atas kita untuk mengikuti dan meneladaninya.
  4. Kesempurnaan konsepsi dakwah para Nabi tergambar dalam system dakwah Nabi Ibrahim AS, sehingga Allah memerintahkan Nabi kita, Muhammad SAW untuk mengikuti manhajnya, sebagaimana firman Allah, yang artinya: “Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif. Dan bukanlah Dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah).” (an-Nahl: 123)