Copyright © www.aldakwah.org 2020. All Rights Reserved.

Get Adobe Flash player
Anda dapat membaca Artikel serta kajian yang disediakan oleh kami
Anda dapat mengetahui berita islam terkini baik berita lokal maupun Internasional
Anda dapat mengakses murottal Al-Quran beserta terjemahannya ke berbagai bahasa
Anda dapat mengakses kajian audio yang kami terbitkan
Anda dapat berinfaq serta besedekah melalui perantara kami
Anda dapat memesan produk kami secara online

Indonesia Terus Tumbuh, Saudi dan Malaysia Terdepan dalam Perbankan Syariah

Aset perbankan syariah di pasar internasional diperkirakan melebihi 778 miliar dolar (sekitar Rp 9.569,4 triliun) pada tahun 2014, menurut EY’s World Islamic Banking Competitiveness Report 2014-15: Participation Banking 2.0. Aset perbankan syariah global mendapatkan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sekitar 17 persen pada 2009-2013.

Sekitar 95 persen dari aset perbankan syariah internasional didasarkan dari sembilan pasar inti, lima di antaranya berada di GCC (Arab Saudi, UEA, Qatar, Kuwait dan Bahrain). Pangsa pasar aset perbankan syariah di Arab Saudi, UEA, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Malaysia, kini antara 20 persen dan 49 persen. Analisis ini tidak memasukkan Iran.

Bank syariah di Arab Saudi, Kuwait, dan Bahrain, mewakili lebih dari 48,9 persen, 44,6 persen, dan 27,7 persen pangsa pasar masing-masing. Kemajuan positif telah telah berlangsung di Indonesia, Pakistan, dan Turki, dengan 43,5 persen, 22,0 persen, dan 18,7 persen CAGR masing-masing 2009-2013.

Gordon Bennie, pimpinan MENA Financial Services di EY, mengatakan: “Enam pasar yang cepat-pertumbuhan (RGMs) — Qatar, Indonesia, Arab Saudi, Malaysia, Uni Emirat Arab dan Turki (QISMUT) – menguasai 80 persen dari aset perbankan syariah internasional sejumlah $ 625 miliar pada tahun 2013. Aset perbankan syariah QISMUT diperkirakan akan terus tumbuh pada CAGR dalam lima tahun, dari 19 persen mencapai $ 1,8 triliun pada 2019.”

Ashar Nazim, Pemimpin Islamic Finance Global di EY, mengatakan: “Industri perbankan Islam telah menjadi tren di beberapa pasar utama. Hal ini menunjukkan peluang baru, sekaligus merupakan tantangan baru, dan menuntut pendekatan yang berbeda secara fundamental untuk pertumbuhan yang menguntungkan. Nasabah memiliki kedekatan emosi dalam berurusan dengan bank syariah.

Di masa depan, pertumbuhan akan sangat signifikan bagi bank-bank yang mampu memperkuat hubungan dengan nasabah melalui penggunaan teknologi digital. Bank yang tidak mengikuti kemajuan teknologi akan menghadapi kemunduran serius dari nasabah utama, beralih ke arah pemain konvensional yang dapat memenuhi kebutuhan digital.”

Ernst and Young menganalisis sentimen lebih dari 2,2 juta nasabah yang memposting di media sosial tentang pengalaman mereka berhubungan dengan bank-bank Islam di Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Uni Emirat Arab, Malaysia, Indonesia, Turki, Qatar, dan Oman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepuasan pelanggan adalah biasa-biasa saja pada sejumlah bank Islam.

Ashar mengatakan: “Pelanggan semakin aktif secara online dan vokal tentang pengalaman mereka. Memanfaatkan teknologi dan membangun basis pelanggan yang didasarkan pada nilai tambah tidak mudah bagi bank syariah. Menjembatani kesenjangan kinerja ini membutuhkan suara-suara dari nasabah.

Mentransformasi kepuasaan nasabah di semua saluran dan titik sentuh akan menjadi penting, karena kebutuhan perbankan digital dan sosial dan harapan nasabah akan terus berkembang. Memahami dan menganalisis perubahan pola nasabah ini dapat membantu mengantisipasi kebutuhan, dan mendorong perilaku yang diinginkan.

Yang paling penting, pengalaman nasabah harus menjadi suatu kegiatan yang mesti diwujudkan, dan bukan proyek apa adanya. Pelembagaan kemampuan inti ini membutuhkan dewan dan eksekutif yang bekerja secara efisien, mengubah pengeluaran (biaya-biaya) menjadi dalam bentuk pengembangan bank.”

Arab Saudi dan Malaysia, serta perkembangan di Turki dan Indonesia, akan mendorong masa depan industri ini.

Pembiayaan perdagangan, solusi pembayaran mobile, dan pengawasan atas biaya-biaya, akan mendorong ke fase berikutnya berupa profitabilitas. Sebagian besar bank syariah masih belum dapat bermain dalam bisnis pembiayaan perdagangan.

Ashar mengatakan: “Pendorong utama bagi pasar perbankan syariah masih Arab Saudi dan Malaysia, dengan Turki dan Indonesia mulai membangun diri mereka sebagai pusat perbankan syariah. Dengan meningkatnya ukuran pasar dan kecenderungan yang lebih besar untuk adopsi berbasis teknologi, solusi nasabah-sentris diharapkan diharapkan mengurangi kesenjangan profitabilitas industri dibandingkan perbankan konvensional.”*/Dikutip dari Islamic ND

Hidayatullah.com