Copyright © www.aldakwah.org 2020. All Rights Reserved.

Get Adobe Flash player
Anda dapat membaca Artikel serta kajian yang disediakan oleh kami
Anda dapat mengetahui berita islam terkini baik berita lokal maupun Internasional
Anda dapat mengakses murottal Al-Quran beserta terjemahannya ke berbagai bahasa
Anda dapat mengakses kajian audio yang kami terbitkan
Anda dapat berinfaq serta besedekah melalui perantara kami
Anda dapat memesan produk kami secara online

Begini Kondisi Geografis Makkah dan Madinah

Kondisi geografis Arab Saudi jauh berbeda dengan Indonesia. Gangguan kesehatan yang didapati pada jamaah haji, umumnya karena perbedaan iklim antara Tanah Air dan Tanah Suci. Lantas bagaimana kondisi geografis Makkah dan Madinah?

Seperti dikutip dari buku Panduan Perjalanan Haji Untuk Perempuan, Madinah berjarak lebih kurang 450 kilometer dari Makkah dan 1.000 kilometer dari Riyadh. Kota ini terletak 600 kilometer dari permukaan laut. Kontur tanahnya tergolong lapang dan datar.

Penduduk Madinah terdiri atas warga asli dan pendatang. Selain penduduk asli warga Saudi yang terdiri atas beragam suku, kaum pendatang banyak terdapat di sini. Tidak heran, Madinah bagaikan magnet yang menarik kaum muslim pendatang dari berbagai suku bangsa. 

Beragam suku bangsa dan etnis terdapat di Madinah. Mayoritas adalah penduduk asli. Selain itu, adalah kaum pendatang yang berasal dari berbagai negara Timur Tengah tetangganya, seperti Mesir, Suriah, Jordania, Libanon, dan Turki. 

Pendatang dari negara-negara asia lainnya menempati urutan berikutnya, seperti Bangladesh, India, Pakistan, dan Filipina. Kebanyakan pendatang memiliki pekerjaan dari hasil referensi kerabat atau teman-temannya satu negara. Maka tidak heran kalau rata-rata sebagai rekan satu negara mereka memiliki area pekerjaan yang sama. 

Oleh sebab itu, lazim apabila ada beberapa lapangan pekerjaan yang dikaitkan dengan suku bangsa tertentu. Misalnya, seperti orang Filipina yang banyak bekerja di sektor kesehatan sebagai perawat. 

Sementara Bangladesh dan Indonesia kaum prianya banyak dikenal sebagai pekerja di sektor informal seperti sopir, petugas kebersihan, atau penjaga toko.

Iklim di Madinah merupakan iklim padang pasir. Pada saat pergantian musim dari musim dingin ke musim panas, kadang terjadi badai pasir. Badai pasir adalah embusan angin yang sangat kuat disertai pasir. 

Kerasnya embusan angin tidak main-main, hingga suaranya menimbulkan deru yang cukup menyeramkan dan sangat deras, sehingga sanggup membuat bunyi pada jendela dan pintu yang tertutup rapat, seolah-olah ingin masuk ke dalam ruangan. Tentu bisa dibayangkan apabila membuka pintu atau jendela saat itu.

Badai pasir ini biasanya tidak berlangsung lama. Pernah juga berlangsung semalaman, tapi syukuriah esok paginya hanya meninggalkan sisa-sisa pasir berwarna merah yang dibawa angin di bagian bawah pintu.

Republika.co.id