Copyright © www.aldakwah.org 2020. All Rights Reserved.

Get Adobe Flash player
Anda dapat membaca Artikel serta kajian yang disediakan oleh kami
Anda dapat mengetahui berita islam terkini baik berita lokal maupun Internasional
Anda dapat mengakses murottal Al-Quran beserta terjemahannya ke berbagai bahasa
Anda dapat mengakses kajian audio yang kami terbitkan
Anda dapat berinfaq serta besedekah melalui perantara kami
Anda dapat memesan produk kami secara online

Perkataan Para Salafus Shalih Tentang Al-Khasyah Dan Al-Bukâ (Seri Akhlaq 2)

Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam yang telah memberi karunianya kepada kita sehingga kita masih bisa menghirup segarnya udara di hari ini, setelah kami bahas pada kesempatan yang lalu tentang pengertian Al-Khasyah & Al-Buka', kami paparkan pada kesempatan kali ini beberapa perkataan para Salafus Shalih tentang Al-Khasyah & Al-Buka'.

Perkataan para salafus shalih tentang al-Khasyah dan al-Bukâ akan menjelaskan betapa agungnya kedudukan al-Khasyah dan al-Bukâ di sisi mereka.

  • Ibnu Umar berkata, “Demi Allah, menangis dan air mataku mengalir membasahi jakunku itu adalah lebih aku sukai dari pada aku bersedekah dengan seribu dinar.” (HR. ad-Darimi).
  • Sa’id bin Jubair berkata, “Khasyah itu adalah kamu takut kepada Allah, sehingga hal tersebut menghalangimu dari bermaksiat kepadanya, itulah hakikat Khasyah.”
  • Khalid bin Mi’dan berkata, bahwasanya Ka’ab al-Ahbar pernah berkata, “Aku menangis karena takut kepada Allah itu adalah lebih aku sukai dari pada bersedekah emas seberat tubuhku.”
  • Ubaidullah bin Ja’far berkata, “Tidaklah seorang hamba meminta pertolongan atas agamanya seperti dia meminta khasyah dari Allah.”
  • Jika Muhammad bin Mukandir menangis, ia mengusap air matanya dari wajah dan jenggotnya seraya berkata, “Telah sampai sebuah riwayat kepadaku bahwa api neraka tidak akan membakar tempat yang dialiri oleh air mata khasyatullah.”
  • Al-Baihaqiy meriwayatkan dari Ziyad al-Anbary bahwasanya dia berkata, “Sesungguhnya Allah Ta’ala berkata, “Demi KumuliaanKu tidaklah salah seorang hambaKu menangis karena takut kepadaKu, kecuali Aku akan melindunginya dari azabKu.
  • Hasan al-Bashri berkata, “Sesungguhnya kedua mata itu akan menangis, dan hati akan menjadi saksi dusta baginya[1]! Kalau sekiranya seorang hamba menangis di tengah kerumunan manusia karena takut kepada Allah, niscaya mereka semua akan dirahmati karena tangisan hamba tersebut.” Perkataan seperti ini disampaikan juga oleh Syahr bin Hausab. Saya (penulis) berkata, “Hati mereka serupa (sama-sama shalih), maka perkataan mereka juga sama.”
  • Wahb bin Munabbih berkata, “Ketahuilah orang yang menangis karena takut kepada Allah dan bersabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, balasan bagi mereka tiada terhingga.”
  • Ka’ab al-Ahbar berkata, “Tiadalah seseorang menangis karena takut kepada Allah, hingga air matanya bercucuran membasahi bumi, setetes demi setetes, kemudian ia masih dipanggang dalam Neraka selamanya (dia tidak akan dijilat api neraka. Pent), hingga ada air hujan yang mengguyur dari langit dan membasahi bumi, kemudian naik lagi ke langit[2].”
  • Khalid bin Mi’dan berkata, “Tiadalah seseorang menangis karena takut kepada Allah kecuali semua anggota badannya juga merasakan ketakutan (tidak berbuat maksiat. Pent).”
  • Abdullah bin Abi Sa’id as-Siraj bercerita, “Suatu hari kami berada di halaqah Hasan al-Bashri dan ia sedang memberi nasihat. Pada saat itu tiba-tiba terdengar isakan tangis salah seorang yang di antara mereka. Lantas Al-Hasan berkata, “Wahai orang yang menangis, keraskanlah tangisanmu!, sesungguhnya telah sampai kepada kami satu hadits yang berbunyi, ‘Barangsiapa yang menangis karena takut kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan rahmat pada hari kiamat kelak.”
  • Ja’far bin Sulaiman adh-Dhaba’i bercerita, “Pada suatu hari Malik bin Dinar memberikan wejangan. Di tengah-tengah ia menyampaikan wejangan tersebut, Hausyab bin Muslim menangis, lantas Malik menepuk pundaknya seraya berkata, “Menangislah wahai Abu Basyar. Karena telah sampai kepadaku satu riwayat yang berbunyi, “Tidaklah seorang manusia senantiasa menangis karena takut kepada Allah hingga Tuannya (Allah AWJ) menyayanginya kemudian membebaskannya dari api neraka.”
  • Imran bin Khalid al-Khuza’i menuturkan: “Saya pernah mendengar pernah mendengar Farqad as-Subki berkata, ‘Aku telah membaca bebarapa kitab dan aku dapatkan pernyataan yang berbunyi, ‘Katakanlah kepada orang-orang yang menangis karena takut kepada Allah, ‘Bergembiralah, karena sesungguhnya rahmat itu jika diturunkan dari langit, ia akan turun kepada kalian untuk pertama kalinya.’.”
  • Shalih al-Mirri menceritakan, telah sampai kepadaku riwayat dari Ka’ab al-Ahbâri, bahwasanya dia berkata, “Barangsiapa yang menangis karena dosa-dosanya, niscaya dia akan diampuni. Barangsiapa yang menangis karena rindu kepada Allah, niscaya Allah akan memandang kepadanya.”
  • Zadzan bin Abi Umar al-Bajali, ia berkata, “Telah sampai kepadaku suatu riwayat, bahwasanya barangsiapa yang menangis karena takut kepada neraka, niscaya Allah akan menjauhkannya dari api neraka. Dan barangsiapa yang menangis mengharapkan surga Allah, niscaya Allah akan menempatkannya di dalam surga.”
  • Yazid bin Abdullah ar-Raqqasyi menuturkan, “Telah sampai riwayat kepadaku yang berbunyi, ‘Barangsiapa yang air matanya bercucuran karena takut kepada Allah, niscaya pada hari kiamat kelak dia akan mendapatkan keamanan.’”
  • Abdul Wahid bin Zaid berkata, “Wahai saudara!, tidakkah kalian menangis karena cinta kepada Allah?? Ketahuilah! barangsiapa yang menangis karena cinta kepada Tuannya (Allah AWJ), niscaya tidak ada yang menghalanginya untuk melihat kepada-Nya. Wahai saudaraku!, tidakkah kalian takut akan api neraka?? Ketauhilah bahwa barangsiapa yang menangis karena takut akan api neraka, niscaya ia akan dijauhkan darinya. Wahai saudaraku!, apakah kalian tidak menangis karena takut kehausan pada hari kiamat kelak?? Ketahuilah bahwa barangsiapa yang menangis karena takut kepada yang demikian, niscaya ia akan diberi minum oleh Allah di hadapan para mahluk pada hari kiamat kelak. Wahai saudaraku!, tidakkah kalian menangis?!, Kami akan menangis. Tangisilah keberadaan air dingin yang menemani hari-harimu di dunia, semoga saja air itu akan menghilangkan dahagamu kelak di hari kiamat bersama ahli taubat dan sahabat-sahabat terbaik. Kemudian menangislah Abdul Wahid bin Zaid sampai pingsan.”
  • Umar bin Dzar berkata, “Tiada seorangpun yang menangis yang aku jumpai, kecuali aku diberi tahu bahwa rahmat turun kepada orang yang menangis (karena takut kepada Allah).”
  • Abdullah bin ‘Aun bercerita, “Ketahuilah bahwasanya para pendahulu kita, mereka memberikan untuk dunia ini sisa-sisa tenaga yang mereka gunakan untuk kepentingan akhirat. Namun kita sekarang memberikan untuk akhirat kita sisa-sisa tenaga yang kita kuras untuk kepentingan dunia.” Abu Masy’ar bercerita, “Aku melihat Abdullah bin ‘Aun sedang menangis di majlis Abu Hazm, ia mengusapi wajahnya dengan air mata, dan ia berkata, ‘Telah sampai kepadaku sebuah riwayat, bahwasanya api neraka tidak akan menjilat tempat yang dibasahi oleh air mata.’”
  • Harits bin Umair berkata, bahwasanya Umar bin Abdul Aziz berkata kepadanya, “Wahai Abu al-Jûdî!, manfaatkanlah air mata yang membasahi pipimu karena Allah[3].”
  • Hammad bin Yahya al-Abhi menuturkan bahwasanya dia mendengar Muhammad bin Wasi’ berkata tatkala melihat seorang laki-laki sedang menangis, “Telah sampai kepada kami suatu riwayat bahwa siapa saja yang menangis (karena takut kepada Allah) ia akan mendapatkan rahmat. Maka barangsiapa yang mampu menangis, menangislah. Menangislah atas dosa-dosa yang telah kamu perbuat.”
  • Zaid bin Aslam berkata, “Aku mendengar Abu Hazm berkata, ‘Suatu riwayat telah sampai kepada kami bahwa Tangisan seseorang karena takut kepada Allah merupakan kunci rahmat-Nya.”
  • Hakîm bin Ja’far mengutarakan bahwa ia pernah mendengar Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Tangisan itu adalah kunci-kunci taubat. Tidakkah kalian melihat bahwa orang yang menangis itu tersentuh hatinya, kemudian dia menyesali dosa-dosanya.”
  • Hamzah al-A’ma bercerita, “Suatu ketika ibu membawaku pergi menemui al-Hasan. Ketika bertemu dengannya ibuku berkata, ‘Wahai Abu Sa’id!, Merupakan satu kebahagian bila anakku ini selalu menyertaimu, semoga Allah memberikan manfaat baginya dengan keberadaannya di sisimu.’ Kemudian aku tinggal bersamanya. Suatu hari ia berkata kepadaku, “Hai anakku, bersedihlah selalu dengan (mengharap) kebahagian akhirat, semoga kamu bisa mendapatkan kebahagian tersebut. Menangislah selalu di saat kamu sendirian, semoga Penolongmu (Allah SWT) melihatmu pada saat itu dan mendatangkan kasih sayang-Nya sehingga kamu termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung. ”Suatu saat aku memasuki rumahnya dan kudengar ia menangis. Kemudian aku datang bersama beberapa orang (siapa tahu dia telah selesai menangis) ternyata ia masih menangis, dan kadang-kadang aku tiba di rumahnya pada saat ia shalat dan lagi-lagi aku mendengar isakan tangisnya. Sehingga pada suatu hari aku bertanya kepadanya, ‘Wahai Abu Sa’id!, mengapa anda sering menangis?!,’ ketika mendapatkan pertanyaan seperti itu al-Hasan malah menangis seraya berkata, “Wahai anakku!, Apakah yang akan dilakukan oleh seorang Mukmin jika ia tidak menangis?? Wahai anakku!, Ketahuilah bahwa tangisan itu menyebabkan turunnya rahmat. Jika kamu mampu menghabiskan umurmu dengan menangis, lakukanlah!!, siapa sangka Allah akan melihatmu dalam keadaan demikian, lalu merahmatimu, dan jika rahmat Allah telah turun kepadamu, niscaya kamu akan selamat dari api neraka.”
  • Ismail bin Dzakwan bercerita, “Suatu ketika Iyyas bin Muawiyah bersama ayahnya memasuki masjid yang pada saat itu sedang terdengar seseorang yang sedang bercerita, di tengah-tengah cerita tersebut menangislah para jamaah masjid kecuali Iyyas dan ayahnya. Tatkala orang-orang sudah bubar, Muawiyah bin Qurrah bertanya kepada anaknya, ‘Apakah menurutmu kita adalah orang yang terburuk di majlis ini?’ Iyyas menjawab, ‘Sesungguhnya itu adalah kelembutan hati! Sebagaiamana air mata itu begitu cepat mengalir, seperti itu pula fitnah akan datang kepada mereka!’ Bapaknya menyela, ‘Aku tidak mengerti maksud ucapanmu wahai anakku, kecuali bahwa hati mereka begitu peka dan halus, dan mereka mengharapkan rahmat Allah SWT.”
  • Abdurabbihi bin Ubaid al-Azadiy bercerita, “Kami sedang berada di majlis Muawiyah bin Qurrah. Tatkala ia menyebutkan sesuatu, tiba-tiba terdengar ratapan seseorang di bagian belakang majlis. Muawiyah pun berkata kepadanya, “Semoga Allah mengabulkan harapan dan keinginanmu sebagai balasan dari tangisanmu!’ Maka bergemalah majlis itu dengan suara tangisan.”
  • Farqad as-Sabkhi pernah menangis sampai membahayakan kesehatan dirinya. Maka ia ditanya akan hal itu. Ia pun menjawab, “Suatu riwayat telah sampai kepadaku dan isinya adalah setiap mata yang menangis karena takut kepada Allah, tidak akan terkena percikan api neraka pada hari kiamat.” Kemudian ia pun menangis dan membuat sahabat-sahabatnya menangis.
  • Abu Imran al-Jauniy berkata, “Setiap amal kebajikan ada balasannya, dan setiap kebajikan itu adalah baik. Kecuali air mata yang mengalir dari kelopak mata seorang hamba, ia tidak mempunyai timbangan tidak pula takaran, hingga lautan api neraka akan padam dengannya.”

___________________________________________

[1] Maksudnya – wallahu a’lam – kedua mata bisa saja menangis, akan tetapi hatilah yang menjadi saksi, apakah mata menangis karena riya’ atau karena Allah semata.

[2]  Ungkapan ini menunjukkan kemustahilan, maksudnya seorang hamba yang menangis karena Allah hingga air matanya membasahi bumi, tidak mungkin disiksa dalam api Neraka selamanya. Gaya bahasa semacam ini terdapat dalam al-Quran: “…..hingga ada unta masuk ke lobang jarum…” (QS. Al-A’raf: 40)

[3]  Arti ungkapan ini – wallahu a’lam- adalah, banyak-banyaklah menangis, dan jadikanlah itu sebagai kesempatan untuk mendapatkan rahmat Allah, karena air mata yang membasahi pipi (karena takut kepada Allah) merupakan penghalang dari api neraka, semakin sering air mata itu mengalir semakin banyak pula rahmat yang turun. (editor)