Copyright © www.aldakwah.org 2020. All Rights Reserved.

Get Adobe Flash player
Anda dapat membaca Artikel serta kajian yang disediakan oleh kami
Anda dapat mengetahui berita islam terkini baik berita lokal maupun Internasional
Anda dapat mengakses murottal Al-Quran beserta terjemahannya ke berbagai bahasa
Anda dapat mengakses kajian audio yang kami terbitkan
Anda dapat berinfaq serta besedekah melalui perantara kami
Anda dapat memesan produk kami secara online

Pengertian Al-Khasyah & Al-Buka' (Seri Akhlaq 1)

Segala Puji Kita haturkan kepada Tuhan semesta alam Allah Subhanahu wata'ala yang telah menganugerahkan kita nikmat hidup & iman serta mengkaruniai kita dengan rahmat yang tak ada habis - habisnya, saudara seiman yang selalu dirahmati Allah SWT, pada kesempatan kali ini ada baiknya kita membahas tentang akhlaq dan bagaimana kita menyikapinya, berikut kami sajikan seri pertama dari serial akhlaq dan insya Allah kami akan sajikan di kesempatan berikutnya sekuel - sekuel dari seri ini, pada kesempatan yang indah ini kami sampaikan pembahasan tentang Pengertian Al-Khasyah & Al-Buka'.

Dalam kamus al-Muhith disebutkan: bakâ, yabkî, bukâan wa bukan. Wa abkâhu artinya dia melakukan sesuatu yang menyebabkan dia menangis. Wa bakkâhu artinya dia memotivasinya untuk menangis. Wa bakâhu artinya ahli warisnya menangisi dia. Wa al-Bakiyyu artinya orang yang sering menangis. Wa at-Tabâkiy adalah tangisan yang dibuat-buat.

Adapun al-Khasyah berasal dari kata: khasyiahu: khasyan, khasyatan, khusyâtan, mikhsyâtan, makhsyiatan, wa khasyânan yang semuanya berarti menakuti.

Maka atas dasar inilah al-Khasyah menurut pengarang kamus al-Muhith berarti al-Khauf (rasa takut). Adapun selain dia ada yang mengartikan al-Khasyah itu adalah al-Khauf yang bercampur dengan pengagungan. Dan terkadang kata al-Khasyah digunakan dengan makna pengharapan (ar-Rajâ`).

Tangisan itu bermacam-macam. Ada yang dinamakan tangisan kebahagian dan kesenangan, seperti kisah Abu Bakar ketika hijrah di saat dia berkata kepada baginda Nabi SAW, “Apakah anda mau saya temani wahai Rasulullah,”Rasulullah SAW menjawab, “Ya, temani aku.” Aisyah berkata, “Lantas Abu Bakar menangis bahagia, dan aku tak pernah menyangka ada seseorang yang menangis bahagia sebelum hari itu.”

Ada juga tangisan kesedihan atas hilangnya orang yang disayangi atau kerabat, atau bencana yang melanda kaum Muslimin. Tangisan ini merupakan bentuk kasih sayang yang Allah susupkan di setiap hati hamba-hamba-Nya, seperti perkataan Nabi SAW tatkala air matanya bercucuran atas kepergian anak laki-laki beliau Ibrahim, dan ia ditanya oleh Abdurrahman bin Auf, “Anda juga menangis wahai Rasulullah?!,” beliau menjawab, “Wahai ibnu Auf, itu adalah (tangisan) kasih sayang.

Namun jenis tangisan yang paling mulia dan agung adalah air mata yang mengalir dari rasa takut kepada Allah. Dan kita memohon kepada Allah agar kita menjadi orang-orang yang senantiasa menangis karena takut kepada Allah SWT.

KEUTAMAAN MENANGIS KARENA TAKUT KEPADA ALLAH

Allah SWT berfirman tatkala menyanjung para utusan-Nya AS, “Mereka itulah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Maryam: 58)

Allah juga berfirman tatkala menyanjung orang-orang yang berilmu sebelum kita dari kalangan ahli kitab yang beriman, Dia berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Qur`an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata, ‘Maha Suci Tuhan kami, sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (al-Isra`: 107-109). Kata ganti yang ada pada kata ‘sebelumnya’ bisa kembali kepada al-Qur`an dan bias juga kembali kepada Nabi SAW. Sebagaimana Allah menyanjung orang-orang yang beriman kepada kenabian Muhammad SAW dari kalangan Nashrani. Imam Ibnu Katsir RA berkata, “Allah mensifati mereka karena keilmuan mereka, ibadah dan tawadhu’, kemudian Dia juga mensifati mereka dengan kepatuhannya kepada kebenaran. Dia AWJ berfirman, “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat air mata mereka bercucuran disebabkan kebenaran (al-Qur`an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri) seraya berkata, ‘Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran al-Qur`an dan kenabian Muhammad SAW).” (al-Maidah: 83).

Allah SWT telah menyanjung orang-orang yang menangis (karena takut kepada-Nya) dari kalangan sahabat Nabi SAW yang Allah AWJ ketahui kapasitas kecintaan mereka kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, namun disebabkan halangan yang menahan mereka, dan tidak adanya bekal, untuk berjihad bersama Nabi SAW pada perang Tabuk di saat musim penceklik. Disebabkan ketulusan dan kejujuran mereka Raslullah SAW berkata, “Sesungguhnya di Madinah ada bebarapa kaum yang senantiasa menyertai kalian ketika kalian berjalan dan melewati lembah-lembah.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah! Bagaimana itu bisa terjadi sedangkan mereka di Madinah?” beliau menjawab, “Ya benar mereka di Madinah, karena berhalangan (kalau tidak, niscaya mereka akan berperang bersama kalian. Pent).” (Muttafaq Alaih). Lantas Allah mensifati mereka dengan sifat yang mulia ini seraya berfirman yang artinya, “Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk menyalahkan orang-orang yang berlaku baik. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata, ‘Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu,’ lalu mereka kembali sedang air mata mereka bercucuran karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.” (at-Taubah: 91-92).

Sebagaimana Allah mengingkari kaum musyrikin Mekkah atas berpalingnya mereka dari al-Qur`an, tidak menangis ketika mendengar ayat-ayatnya -seperti halnya orang-orang yang mengimani al-Qur`an- Dia SWT berfirman, “Maka apakah kamu heran terhadap pemberitaan ini? dan kamu mentertawakan dan tidak menangis?” (an-Najm: 59-60).

Dari penjelasan di atas, kita ketahui bahwasanya menangis karena takut kepada Allah adalah ciri hamba Allah yang bertakwa dari kalangan para Nabi dan Rasul AS, orang-orang shalih dan siapa saja yang mensuri tauladani mereka.

Adapun hadits-hadits yang menunjukkan keutamaan menangis karena takut kepada Allah dan kemuliaan pelakunya, banyak sekali. Berikut ini sebagian dalil tersebut serta petunjuknya (indikasi atau dilalah);

1. Allah akan memberikan naungan kepada hamba-Nya. Sebagaimana hadits Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Tujuh golongan yang mendapatkan naungan Allah di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya.” dan di dalamnya disebutkan, “dan seseorang  yang mengingat Allah sendirian (dalam sepi) kemudian air matanya bercucuran.” (Muttafaq Alaih).

2. Selamat dari Neraka. Abu Hurairah pernah berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Api neraka tidak akan membakar orang yang menangis karena takut kepada Allah (kecuali) hingga ada air susu yang masuk kembali ke tempat asalnya, dan debu yang didapatkan dari berjihad di jalan Allah tidak akan berkumpul dengan asap api neraka jahannam.[1] Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, “Aku mendengar Rasulallah berkata, “Dua mata yang tidak akan terjilat api neraka, mata yang menitikkan air mata karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga-jaga di tengah malam di saat terjadinya peperangan.”.”[2] Ibnu Umar RA berkata, “Rasulullah SAW pernah mengutarakan, “Mata yang mengucurkan air mata takut kepada Allah, tidak akan dijilat api neraka selama-lamanya.” (HR. Abi Dunya).

3. Mendatangkan Kecintaan Allah. Dari Abi Umamah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Tiada yang paling Allah sukai kecuali dua aliran dan dua jejak. Kedua aliran tersebut adalah: aliran air mata karena takut kepada Allah dan aliran darah fi sabilillah. Adapun kedua jejak tersebut ialah: jejak fi sabilillah dan jejak (bekas atau tanda) akibat mengerjakan satu kewajiban dari perkara-perkara yang diwajibkan Allah.[3]

4. Keselamatan dari Fitnah dan yang lainnya. Uqbah bin Amir berkata, aku bertanya, “Wahai utusan Allah apakah keselamatan itu?” Rasulullah menjawab, “Jagalah lisanmu, menetaplah di rumah, dan menangislah atas dosa-dosamu.[4]

5. Kebahagian di dunia dan akhirat. Dari Tsauban bin Amir, Rasulullah SAW pernah mengutarakan, “Thûbâ bagi siapa saja yang menjaga lisannya, menetapi rumahnya, dan menangisi dosa-dosanya.” (HR. ath-Thabrani). Thûbâ artinya kebahagian dan kesenangan tiada tara. Ada juga yang mengartikannya dengan surga atau sejenis pohon di surga.

________________________________________

[1] Diriwayatkan oleh Turmudzi, an-Nasa’i, dan Turmudzi berkata, “Hadits hasan shahih.” Hadis ini juga dishahihkan oleh al-Albani.

[2] Diriwayatkan oleh Turmudzi, dan ia berkata, “Hadits Hasan.” Juga oleh Abu Ya’la, dan al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dengan redaksi; “Mata yang menangis pada tengah malam karena takut kepada Allah.”Dan al-Albani menshahihkannya

[3] Diriwayatkan oleh Turmudzi, dan mengatakan, “Hadits Hasan.” Ibnu Abi Dunya, Thabrani dalam Mu’jam al-Kabîr, dan dishahihkan oleh al-Albani

[4] Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Turmudzi. Turmudzi berkata, “Hadits Hasan.” Dan dishahihkan oleh al-Albani.