Copyright © www.aldakwah.org 2020. All Rights Reserved.

Get Adobe Flash player
Anda dapat membaca Artikel serta kajian yang disediakan oleh kami
Anda dapat mengetahui berita islam terkini baik berita lokal maupun Internasional
Anda dapat mengakses murottal Al-Quran beserta terjemahannya ke berbagai bahasa
Anda dapat mengakses kajian audio yang kami terbitkan
Anda dapat berinfaq serta besedekah melalui perantara kami
Anda dapat memesan produk kami secara online

Pemberontak Hautsi Menahan Bantuan Kemanusiaan ke Yaman

YAMAN - Pemberontak Syiah Al Hautsi (Syiah Al-Houthi) diduga membatasi masuknya bantuan kemanusiaan ke Yaman, demikian kata juru bicara militer koalisi Negara Arab dipimpin Arab Saudi, kemarin.

Juru Bicara koalisi “Ashifatul Hazm” (Badai Penghancur)  Brigadir Ahmad Asiri mengatakan, bantuan kemanusiaan tidak bisa masuk ke Yaman. Menurutnya, desakan PBB untuk menerapkan “jeda kemanusiaan” di Yaman lebih tepat ditujukan kepada milisi Al Hautsi.

Assiri mengklaim agresi militer terhadap Hautsi juga diharapkan rakyat sipil Yaman yang mendambakan kehidupan yang normal lagi di Tanah Air mereka.

”Sejauh ini cukup baik. Koalisi terus menargetkan milisi (Hautsi) Yaman dan pendukung mereka,” kata Assiri, dilansir Arab News,Selasa (14/4/2015).

Menurutnya, tidak sedikit milisi Al-Hautsi (Al-Houthi) telah melarikan diri serangan koalisi melalui pegunungan. Gerakan para milisi Hautsi itu, lanjut Assiri, justru lebih terlihat dan rentan terhadap serangan Koalisi Teluk.

”Koalisi itu juga menargetkan gudang penyimpanan amunisi pemberontak, dan kendaraan lapis baja untuk memusnahkan kemampuan mereka dalam melawan koalisi,” ujar jenderal Saudi itu. ”Mereka bahkan mengorbankan nyawa warga biasa.”

Koalisi kembali menegaskan, bahwa agresi militer di Yaman belum akan berhenti selama pemerintah sah Yaman di bawah kepemimpinan Presiden Abdurabbu Mansyur Hadi belum bisa berkuasa lagi di negaranya.

Sementara itu di New York, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan resolusi mengenakan embargo senjata terhadap pemberontak Hautsi serta mendesak pemberontak itu mundur dari daerah yang mereka tawan. 

Rusia tidak memilih ketika resolusi itu tapi tidak menggunakan hak veto untuk membatalkan keputusan itu. Resolusi itu didukung 14 dari 15 negara anggota Dewan Keamanan.

Hidayatullah.com